Bhinneka Tunggal Ika: Semboyan Persatuan dari Zaman Majapahit

Bhinneka Tunggal Ika: Semboyan Persatuan dari Zaman Majapahit

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keragaman budaya, suku, agama, bahasa, dan tradisi. Di tengah keberagaman itu, lahirlah semboyan yang menjadi perekat bangsa: Bhinneka Tunggal Ika. Ungkapan ini bukan hanya sekadar kata-kata, tapi mencerminkan nilai luhur persatuan dan toleransi yang telah tumbuh sejak berabad-abad silam.

Bhinneka Tunggal Ika: Semboyan Persatuan dari Zaman Majapahit

Asal Usul Bhinneka Tunggal Ika
Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” berasal dari zaman kejayaan Kerajaan Majapahit yang berdiri di Pulau Jawa pada abad ke-14 Masehi. Tepatnya, kata-kata ini pertama kali muncul dalam kitab sastra kuno berjudul Kakawin Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular, seorang pujangga besar di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350–1389 M).

Dalam karya sastra tersebut, Mpu Tantular menulis kalimat yang kini sangat terkenal:
“Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa”,
yang berarti “Berbeda-beda tetapi tetap satu, tidak ada kebenaran yang mendua.”

Kalimat tersebut mencerminkan filosofi toleransi dan kesatuan dalam keberagaman, terutama dalam konteks kehidupan beragama pada masa itu. Meskipun Kerajaan Majapahit didominasi oleh ajaran Hindu, namun mereka hidup berdampingan secara damai dengan umat Buddha, dan semboyan ini menjadi pengingat akan pentingnya harmoni antar umat.

Makna Mendalam di Balik Semboyan
“Bhinneka Tunggal Ika” secara harfiah diterjemahkan sebagai “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Meskipun bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku, budaya, bahasa daerah, dan agama, semboyan ini menekankan pentingnya persatuan di atas segala perbedaan.

Pada masa Majapahit, keberagaman bukanlah halangan, melainkan kekuatan yang menyatukan kerajaan besar tersebut. Nilai-nilai ini terus hidup hingga masa kini dan menjadi pondasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Diadopsi sebagai Semboyan Negara

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, para pendiri bangsa menyadari pentingnya semboyan yang mampu merepresentasikan semangat persatuan dalam kebhinekaan. Oleh karena itu, “Bhinneka Tunggal Ika” kemudian diresmikan sebagai semboyan negara Indonesia dan dicantumkan secara resmi dalam lambang negara Garuda Pancasila.

Tulisan “Bhinneka Tunggal Ika” terpahat pada pita yang dicengkeram oleh kaki Garuda, menandakan bahwa semboyan tersebut menjadi landasan yang kokoh dalam menjaga keutuhan bangsa.

Bhinneka Tunggal Ika dalam Kehidupan Modern
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini, Bhinneka Tunggal Ika tetap relevan dan bahkan menjadi lebih penting. Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, potensi perpecahan akibat perbedaan bisa saja meningkat. Namun, dengan memegang teguh semangat Bhinneka Tunggal Ika, masyarakat diharapkan tetap menjaga sikap toleran, saling menghargai, dan menjaga harmoni.

Semangat ini juga sangat penting dalam pendidikan, dunia kerja, hingga pemerintahan. Pendidikan multikultural, penghormatan terhadap kebebasan beragama, serta kebijakan inklusif adalah wujud nyata dari penerapan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika.

Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski semboyan ini telah melekat kuat dalam kehidupan berbangsa, tantangan dalam mempertahankan makna Bhinneka Tunggal Ika tetap ada. Isu-isu seperti intoleransi, diskriminasi, dan ujaran kebencian menjadi ancaman serius terhadap persatuan nasional.

Namun, dengan meningkatkan kesadaran akan sejarah dan makna mendalam dari Bhinneka Tunggal Ika, masyarakat Indonesia diharapkan terus menghidupkan semangat toleransi dan gotong royong dalam kehidupan sehari-hari.

Peran generasi muda sangat penting dalam menjaga semboyan ini agar tetap hidup dan relevan. Melalui pendidikan, dialog antar budaya, dan pemanfaatan media sosial yang bijak, nilai-nilai kebhinekaan bisa terus ditanamkan dan dijaga.

Penutup
Sejarah Bhinneka Tunggal Ika merupakan bukti nyata bahwa semangat persatuan telah tumbuh sejak ratusan tahun lalu di tanah Nusantara. Dari tulisan Mpu Tantular pada masa Kerajaan Majapahit hingga menjadi semboyan resmi negara Indonesia, ungkapan ini telah dan akan terus menjadi pengingat penting bagi bangsa Indonesia bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan kelemahan.

Mari terus menjunjung tinggi semangat Bhinneka Tunggal Ika, demi Indonesia yang damai, bersatu, dan sejahtera dalam kebhinekaan.

By admin