Guru Besar UPI Soroti Lima Pilar Kunci dalam Pendidikan Matematika Berkualitas

Guru Besar UPI Soroti Lima Pilar Kunci dalam Pendidikan Matematika Berkualitas
Nurjanah, seorang Guru Besar di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dari Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), memaparkan lima landasan utama yang menjadi fondasi pendidikan matematika yang unggul. Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar, ia menyampaikan pandangannya berdasarkan pedoman yang dirilis oleh National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) atau Dewan Nasional Guru Matematika.

Pidato tersebut disampaikan dalam acara resmi pengukuhan yang digelar di Kampus UPI pada hari Kamis, 19 Mei 2022. Nurjanah mengangkat tema penting yang relevan dengan perkembangan zaman, yakni “Implementasi Information Communication Technology (ICT) dalam Pembelajaran Matematika di Era Revolusi Industri 4.0.”

Berikut adalah uraian dari lima pilar pendidikan matematika yang baik menurut Guru Besar UPI, Nurjanah:

Guru Besar UPI Soroti Lima Pilar Kunci dalam Pendidikan Matematika Berkualitas

1. Keadilan dalam Pendidikan Matematika
Pilar pertama yang ia soroti adalah keadilan. Menurutnya, kualitas pendidikan matematika tidak akan tercapai tanpa adanya pemerataan akses dan perlakuan yang setara bagi seluruh peserta didik. “Keunggulan pendidikan matematika harus dibangun di atas dasar kesetaraan. Setiap siswa, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau budaya, berhak mendapatkan harapan tinggi dan dukungan optimal dalam pembelajaran matematika,” jelas Nurjanah.

Keadilan bukan hanya soal memberikan kesempatan, tetapi juga menyediakan bantuan dan sumber daya yang dibutuhkan siswa untuk berhasil. Dengan cara ini, potensi individu dapat berkembang secara maksimal.

2. Kurikulum Koheren dan Terstruktur
Nurjanah menjelaskan bahwa pilar kedua adalah pentingnya kurikulum yang koheren. Artinya, materi yang diajarkan harus memiliki kesinambungan antar jenjang pendidikan dan tidak bersifat tumpang tindih atau membingungkan.

Kurikulum yang koheren memudahkan siswa dalam memahami konsep-konsep matematika secara logis dan berkesinambungan. Setiap topik sebaiknya dirancang untuk mendukung perkembangan berpikir matematis yang progresif dari tahun ke tahun.

3. Pengajaran yang Efektif
Pilar ketiga menekankan pentingnya pengajaran yang efisien dan efektif. Dalam konteks ini, seorang pendidik diharapkan mampu menyampaikan materi dengan strategi yang tepat, menyentuh kebutuhan belajar siswa, serta menciptakan suasana kelas yang mendukung interaksi dan eksplorasi.

“Guru perlu menguasai berbagai pendekatan pembelajaran aktif yang memotivasi siswa berpikir kritis dan kreatif. Matematika bukan sekadar hafalan rumus, tetapi tentang pemahaman konsep dan aplikasi dalam kehidupan nyata,” tutur Nurjanah.

4. Pembelajaran yang Bermakna
Selanjutnya, Nurjanah menegaskan bahwa pembelajaran matematika seharusnya bersifat bermakna dan kontekstual. Artinya, materi yang disampaikan harus relevan dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa lebih mudah memahami dan mengaplikasikan konsep matematika dalam berbagai situasi.

Pendekatan kontekstual dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan berpikir logis secara alami. Hal ini juga membuat matematika terasa lebih hidup dan tidak lagi dianggap sebagai mata pelajaran yang kaku dan sulit.

5. Penilaian yang Menyeluruh
Pilar terakhir yang disampaikan adalah pentingnya sistem penilaian yang menyeluruh. Evaluasi dalam pendidikan matematika tidak hanya bertujuan mengukur hafalan, tetapi juga menilai pemahaman, proses berpikir, dan kemampuan menyelesaikan masalah.

Penilaian sebaiknya mencakup berbagai metode seperti portofolio, proyek, presentasi, maupun refleksi diri. Dengan demikian, guru dapat memperoleh gambaran utuh tentang perkembangan dan pencapaian setiap siswa.

Menghitung di Era Digital

Dalam pidatonya, Nurjanah juga membahas tantangan sekaligus peluang yang muncul di era Revolusi Industri 4.0. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) menjadi salah satu strategi yang penting dalam pengajaran matematika modern. ICT membuka ruang bagi inovasi pembelajaran, seperti penggunaan software simulasi, aplikasi interaktif, serta platform pembelajaran daring.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa integrasi teknologi dalam pembelajaran harus dilakukan secara bijak. Teknologi hanyalah alat, dan kualitas pembelajaran tetap ditentukan oleh strategi guru dalam memfasilitasi proses belajar.

Penutup
Dengan mengedepankan lima pilar utama yaitu keadilan, kurikulum koheren, pengajaran efektif, pembelajaran bermakna, dan penilaian menyeluruh, Nurjanah berharap pendidikan matematika di Indonesia dapat lebih inklusif dan berkualitas. Kombinasi pendekatan pedagogis yang baik dan pemanfaatan teknologi diyakini mampu mencetak generasi yang berpikir logis, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

By admin